| ..a way.. |
Now Playing:
James Blunt - 1973
Free Blog Content
|
| My Poem |
HIDUP
Kala kau sendiri, takut dan sedih,
Ingatlah kawan...
Tanpa debu, tak akan ada dunia.
Tanpa malam, pagi tak akan berarti.
Tanpa air mata, senyuman akan sangat membosankan.
Dan tanpa hitam, putih pun tidak akan terasa indah.
Jika kau ingin menangis, menangislah untuk sehari saja...
Karna esok, adalah hari lain untuk kau tersenyum.
Jika kau ingin marah, berteriak sajalah...
Jangan kau simpan dendam yang merusak hati.
Jika kau merasa letih akan bebanmu, beristirahatlah sejenak...
Jangan kau tinggalkan beban yang kan membusuk
Dan mematikan kebahagiaan yang kan datang esok
Jika kau merasa sendirian, nikmatilah malam dengan segala syukur...
Karna dengan itu kau akan sadari, bahwa selalu ada harapan tuk hari esok...
#Nikmatilah hidupmu, seperti nada yang mengalir dalam tiap hentakan irama, dan jalanilah hidupmu dengan segala keindahannya...dan kau akan tahu betapa berharganya hidupmu ini...#
created by me
Kumpulan Puisiku
|
| Go Shout! |
Free shoutbox @ ShoutMix
|
| News |
|
|
| Contact Me |
Email: deesiey@gmail.com
MSN: adecy_ch@hotmail.com
FS: deesiey dan deesieyDua

|
| Subscribe |
|


|
Hingga 31 Maret 2007 sudah tercatat 14.628 kasus HIV/AIDS di Indonesia, dan 50% penderitanya adalah generasi muda
Wanna know more? Baca disini!
|
|
| Wednesday, November 04, 2009 |
| Cermin dan Aku |
Pernah bercermin? Pasti! Kalau tidak, siapa yang tahu bagaimana itu bentuk dandanan. Tahu cermin? Pasti dong! Kalau tidak, bagaimana bisa bercermin? Jadi mengerti dong sifat cermin itu apa? Memantulkan image apapun yang diletakkan di depannya. Tapi..dengan syarat, kanannya kamu jadi kirinya cermin. Kanannya cermin jadi kirinya kamu. Tahu dong seperti itu?
Lalu, kira-kira apakah bentuk yang ada di balik cermin berubah dari yang di depan cermin? Tidak! Jelas pasti dan sangat tidak! Ia hanya akan memantulkan persis tanpa merubah. Selain masalah kanan dan kiri itu, ia tidak merubah esensi dari yang dipantulkannya sedikitpun.
Nah begitu pula dengan hidup. Seharusnya hidup juga sama seperti cermin. Memantulkan seutuhnya diri kita. Termasuk sisi yang tak bisa terlihat saat kita tak memandang, disaat kiri menjadi kanan, dan kanan menjadi kiri.
Namun kadang cermin memang bisa menjadi buram, sehingga tak terlihat atau bahkan diri kita hanya terlihat samar-samar. Biasanya, cermin bisa menjadi buram oleh kotoran, embun, ataupun coretan.
Sama seperti hidup. Bagaimana kita memandang, melihat sesungguhnya diri kita sendiripun bisa kadang...tak terkenali selayaknya saat memandang ke cermin yang buram. Status, jabatan, harta yang seringkali bisa merusak pemandangan itu. Menghalangi kita memandang, dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.
Ingat tidak Mbah Surip? Dia hanya menciptakan lagu sederhana. Namun akhirnya booming, sukses. Bisa dibilang, jutaan rupiah mengalir ke kantongnya. Tapi apa yang terjadi padanya? Dalam sebuah artikel di majalah disebutkan bahwa dia tetap manusia yang bersahaja. Semua teman-temannya masih mengenal dia sebagai Mbah Surip yang dulu belum jadi artis.
Atau mungkin alm Rendra? Walau ia sudah terkenal dengan julukan si Burung Merak. Namun Rendra tetaplah Rendra. Bukan Rendra si orang kaya, atau Rendra si pemilik bengkel teater. Ia tetaplah Rendra.
Cermin-cermin mereka sudah paten, tidak bisa terpengaruh lagi oleh segala macam hal, kekayaan, jabatan, bahkan status. Mereka sudah tahu siapa diri mereka sesungguhnya. Mereka tidak takut akan apapun. Bahkan saat mereka harus jatuh miskin sekalipun, mereka tidak takut. Karena apa? Karena mereka sudah tahu siapa diri mereka sesungguhnya.
Namun bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan aku? Siapakah kita sesungguhnya? Seperti apakah aku? Pernahkah kau memandang dirimu di balik cermin? Seperti apakah dia? Seperti apakah aku? Atau takutkah engkau untuk mengetahui sesungguhnya engkau? Tanpa harta, tanpa kekayaan, tanpa jabatan, tanpa status, siapakah engkau, siapakah aku?
Antara saat kau menjadi direktur, atau saat kau menjadi pengemis, apakah dia yang sama yang kau pandangi? Antara saat kau berlimpahan harta, atau saat kau dibalik jeruji, apakah dia yang sama yang kau tatap?
Siapakah engkau? Yakinkah bayang di balik cermin itu benar-benar kamu? Sungguhkah itu engkau?
Bercerminlah...dan tanyakanlah pada dia yang di balik cermin. Sungguhkah itu kamu? Sungguhkah itu aku?
04 November 2009 Labels: diary, perjalanan, ReNuNgaN
[read more...]
|
posted by anakbebek @ 5:07 AM   |
|
|
|
|
|