Kala kau sendiri, takut dan sedih, Ingatlah kawan... Tanpa debu, tak akan ada dunia. Tanpa malam, pagi tak akan berarti. Tanpa air mata, senyuman akan sangat membosankan. Dan tanpa hitam, putih pun tidak akan terasa indah.
Jika kau ingin menangis, menangislah untuk sehari saja... Karna esok, adalah hari lain untuk kau tersenyum. Jika kau ingin marah, berteriak sajalah... Jangan kau simpan dendam yang merusak hati. Jika kau merasa letih akan bebanmu, beristirahatlah sejenak... Jangan kau tinggalkan beban yang kan membusuk Dan mematikan kebahagiaan yang kan datang esok Jika kau merasa sendirian, nikmatilah malam dengan segala syukur... Karna dengan itu kau akan sadari, bahwa selalu ada harapan tuk hari esok...
#Nikmatilah hidupmu, seperti nada yang mengalir dalam tiap hentakan irama, dan jalanilah hidupmu dengan segala keindahannya...dan kau akan tahu betapa berharganya hidupmu ini...# created by me
Pernah bercermin? Pasti! Kalau tidak, siapa yang tahu bagaimana itu bentuk dandanan. Tahu cermin? Pasti dong! Kalau tidak, bagaimana bisa bercermin? Jadi mengerti dong sifat cermin itu apa? Memantulkan image apapun yang diletakkan di depannya. Tapi..dengan syarat, kanannya kamu jadi kirinya cermin. Kanannya cermin jadi kirinya kamu. Tahu dong seperti itu?
Lalu, kira-kira apakah bentuk yang ada di balik cermin berubah dari yang di depan cermin? Tidak! Jelas pasti dan sangat tidak! Ia hanya akan memantulkan persis tanpa merubah. Selain masalah kanan dan kiri itu, ia tidak merubah esensi dari yang dipantulkannya sedikitpun.
Nah begitu pula dengan hidup. Seharusnya hidup juga sama seperti cermin. Memantulkan seutuhnya diri kita. Termasuk sisi yang tak bisa terlihat saat kita tak memandang, disaat kiri menjadi kanan, dan kanan menjadi kiri.
Namun kadang cermin memang bisa menjadi buram, sehingga tak terlihat atau bahkan diri kita hanya terlihat samar-samar. Biasanya, cermin bisa menjadi buram oleh kotoran, embun, ataupun coretan.
Sama seperti hidup. Bagaimana kita memandang, melihat sesungguhnya diri kita sendiripun bisa kadang...tak terkenali selayaknya saat memandang ke cermin yang buram. Status, jabatan, harta yang seringkali bisa merusak pemandangan itu. Menghalangi kita memandang, dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.
Ingat tidak Mbah Surip? Dia hanya menciptakan lagu sederhana. Namun akhirnya booming, sukses. Bisa dibilang, jutaan rupiah mengalir ke kantongnya. Tapi apa yang terjadi padanya? Dalam sebuah artikel di majalah disebutkan bahwa dia tetap manusia yang bersahaja. Semua teman-temannya masih mengenal dia sebagai Mbah Surip yang dulu belum jadi artis.
Atau mungkin alm Rendra? Walau ia sudah terkenal dengan julukan si Burung Merak. Namun Rendra tetaplah Rendra. Bukan Rendra si orang kaya, atau Rendra si pemilik bengkel teater. Ia tetaplah Rendra.
Cermin-cermin mereka sudah paten, tidak bisa terpengaruh lagi oleh segala macam hal, kekayaan, jabatan, bahkan status. Mereka sudah tahu siapa diri mereka sesungguhnya. Mereka tidak takut akan apapun. Bahkan saat mereka harus jatuh miskin sekalipun, mereka tidak takut. Karena apa? Karena mereka sudah tahu siapa diri mereka sesungguhnya.
Namun bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan aku? Siapakah kita sesungguhnya? Seperti apakah aku? Pernahkah kau memandang dirimu di balik cermin? Seperti apakah dia? Seperti apakah aku? Atau takutkah engkau untuk mengetahui sesungguhnya engkau? Tanpa harta, tanpa kekayaan, tanpa jabatan, tanpa status, siapakah engkau, siapakah aku?
Antara saat kau menjadi direktur, atau saat kau menjadi pengemis, apakah dia yang sama yang kau pandangi? Antara saat kau berlimpahan harta, atau saat kau dibalik jeruji, apakah dia yang sama yang kau tatap?
Siapakah engkau? Yakinkah bayang di balik cermin itu benar-benar kamu? Sungguhkah itu engkau?
Bercerminlah...dan tanyakanlah pada dia yang di balik cermin. Sungguhkah itu kamu? Sungguhkah itu aku?
Ya siapa sih yang tak tahu Laila, atau Cinta Fitri? Apalagi kalau ditanyakan ke tante yang setiap sore tidak pernah absen menontonnya. Pasti akan dijawab lengkap beserta sinopsisnya.
Namun yang ini jangan samakan dengan mereka. Tidak ada make up (terutama saat hendak tidur), atau tidak ada adegan close up berkali-kali yang entah apa maksudnya. Tidak ada juga sutradara, apalagi pengarah gaya. Tapi pemainnya? Adegannya? Tidak kalah hebat, lucu, menarik dan seru dibandingkan yang di layar kaca.
Opening
Jadi, kira-kira sekitar pukul 4 sore lewat hari itu, aku sedang duduk kepanasan di sebuah mikrolet. Sambil menguyah sisa-sisa empek-empek yang aku beli dari pedagang pinggir jalan, aku menikmati perjalanan pulang sore itu. Angin sepoi sepoi menemani kesejukan tegukan air dingin ditemani sahut-sahutan klakson sesama mikrolet lain.
Adegan 1
Hingga perjalananku sampai mendekati Pasar Tanah Abang, matakupun mulai tertambat dengan beberapa kejadian.
Salah satunya adalah seorang bapak tua yang duduk dekat pak supir dengan hpnya yang kira-kira ada 5 (setidaknya itu jumlah yang terlihat olehku). Hatiku sedikit tergelak, dan berbagi senyuman dengan seorang laki-laki muda di depanku yang sepertinya juga menyadari itu. Waah, mengalahkan penjual hp neh.
Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, kira-kira bapak itu punya no hp apa saja ya? Soalnya di hampir seluruh perjalanannya, ia sibuk menelpon ataupun mengirimkan sms dengan bermacam-macam hp yang dimilikinya itu. Mampukah anda menebaknya?
Adegan 2
Setelah turun di Pasar Tanah Abang, aku pun lanjut dengan mikrolet tujuan Tanah Abang - Kebayoran Lama. Dan di perjalanan, akupun melihat ada seorang ibu-ibu tua (hampir nenek-nenek) sedang marah-marah dengan seekor kucing.
Yaa! Kucing!
Ibu tua itu sedang memarahi seekor kucing malas yang sedang tidur-tiduran di atas tong bekas minyak tanah (sepertinya). Ditarik-tariknya kardus yang ditiduri kucing itu.
Nampaknya, kardus yang ditiduri kucing itu adalah milik ibu tua itu. Ditariknya kardus itu, tapi sepertinya kucing malas itu terlalu gemuk dan berat sehingga sulit. Akhirnya, ibu itu marah-marah sambil terus berusaha menarik kardus tersebut.
Kenapa kucingnya tidak diusir? Khan sudah dibilang, kucingnya malas. Jadi walau sudah dimarahi ibu tua itu sambil kardusnya ditarik-tarik, kucing itu masih saja asyik tidur-tiduran seakan tidak peduli.
Dasar kucing!
Adegan 3
Matahari mulai terbenam, dan awan sedang asyik bermain dengan warna jingga milik mentari. Mikrolet yang aku tumpangi sedang terjebak macet di jembatan yang melintas di atas rel kereta api, hingga saat kupandangi langit dan hamparan gedung di ujung sana, aku serasa berada dalam sebuah adegan film.
Bukanlah lagu melankolis dengan iringan biola ataupun piano yang terdengar, melainkan bunyi klakson dan deruman mesin motor.
Bukanlah parfum mahal, tapi asap-asap knalpot yang membaui udara sore itu.
Tapi saat aku pandangi langit dengan warna jingga dan biru yang seperti sedang bercinta, aku merasa begitu kecil di hadapan semuanya.
Kurasakan semua keindahan dan keajaiban hidup saat itu juga.
Mataku berusaha mengabadikan semuanya, saat kamera hpku terlalu kecil untuk diandalkan.
Jiwaku berusaha merengkuh semua rasa, saat tangan-tanganku terlalu kecil untuk meraihnya.
Dan saat kemacetan perlahan pecah, mikrolet yang kutumpangi pun mulai beranjak maju, dan menghantarkanku ke dalam pangkuan rumah.
--
Seperti yang aku katakan, tidak kalah menariknya khan dibandingkan yang ada di layar kaca? Gratis pula. Setiap hari, setiap saat (tidak hanya tayang sore hari), dan yang serunya, tidak ada yang menyamai alias ditiru oleh siapapun.
Kau juga bisa memiliki untuk dirimu sendiri lho!
Bagaimana?
Yang perlu dilakukan hanyalah matikan televisimu dan keluarlah dari tempurungmu.
Lihatlah sekililing, rasakan semuanya, dan nikmatilah Sinetron Sore Hari-mu!
Siang yang panas. Hari yang terik. Penantian yang membosankan. Ternyata semua terbayar disaat ku meletakkan mataku pada sebuah buku dengan judul yang begitu akrab. Sheila by Torey Hayden.
Aku pun teringat pada sebuah buku tebal yang telah kusam karena beberapa kali aku baca dan kupinjamkan ke beberapa temanku. Aku pun teringat pada seorang guru yang berdedikasi, dan seorang gadis cilik yang penuh luka. Sheila. Seorang gadis cilik berumur 6 tahun yang telah menculik seorang bocah kecil dan membakarnya. Gadis cilik yang kemudian bertemu dengan Torey, seorang guru di sebuah kota kecil. Gadis cilik yang pernah ditinggalkan ibu tercintanya di pinggir jalan di sebuah malam. Gadis cilik yang kemudian belajar tentang arti cinta dari orang asing yang dikenalnya di sebuah sekolah, Torey. Gadis cilik yang telah membuatku menangis setiap kali aku membaca kisahnya..dan membacanya lagi.
Dan kini, ternyata aku menemukan buku sekuelnya. Sheila, Kenangan Yang Hilang.
Aku sempat ragu untuk membelinya. Harganya cukup mahal dibandingkan sebuah buku Kata kata Jean Paul Satire. Ah..aku sempat berniat menukarnya dengan buku Jean Paul Satire. Tak perlu kuceritakan bagaimana buku itu juga memikatku.
Kutimang, dan akhirnya kutetapkan hati. Aku ingin membacanya. Aku haus. Aku butuh bacaan ini.
Jika seorang perokok berat mencandui rokok, dan lebih memilih membeli rokok daripada sepiring makanan. Aku adalah pecandu buku. Buatku, tak ada yang lebih penting dari sebuah buku. Ya ya ya...pemikiran yang kurang bijak sebenarnya. Tapi...untuk 1 buku ini, aku yakin...aku tak akan menyesalinya.
Dengan seharga lembaran biru, aku pun membawanya ke kasir. Tak ada lagi keraguan. Hanya kerinduan yang amat sangat untuk membaca.
Dengan seharga lembaran biru, aku yakin...aku mendapatkan lebih darinya. Sheila seharga lembaran biru...tunggulah...aku yakin..aku akan menemukanmu
PS: Jika kau bertanya buku apa yang bagus? Dengan mantap ku katakan...bacalah buku ini, juga sekuel pertamanya. Maka kau tak akan mampu menghentikan kekaguman serta air matamu. Percayalah padaku.
Aku kini sudah sedikit lebih dewasa...walau dengan memar di jidat. *JEDOUGH*
Kata orang dunia maya tidak penting.
Lebih penting real life. Ok..itu memang tidak salah. Kata orang dunia maya nggak ada gunanya. Lebih berguna keluar dan berkarya di luar. Hm..kalau ini tidak 100% benar untukku.
Ok, memang berkutat di depan dunia maya berlama-lama memang pasti tidak menyehatkan. Selain memutus jaringan sosialmu yang sesungguhnya, juga membuat kamu seperti katak dalam tempurung. Masih ingat katak dalam tempurung? Katak yang jika dilepaskan ke dunia luar akan kebingungan dan sulit untuk beradaptasi. Jalannya pun lemas dan tertatih-tatih karena jarang terkena sinar matahari. Ingat? Ya kira-kira seperti itulah jika kamu berlama-lama di dunia maya. Walau memang tidak semuanya seperti itu.
Tapi, dalam dunia maya, terutama facebook kini, membuatku cukup mengerti dan mendapat beberapa pelajaran. Selain belajar sabar, belajar memahami, juga belajar mengerti orang. Siapa bilang masalah add/remove/ignore itu masalah sepele? Dari situ kau diajar untuk lebih bisa memilah milah dan lebih bijak. Perangai dan karakter pun terlihat dengan jelas. Tata krama dan kesopanan juga ikut terdidik. Aku yang besar dari keluarga yang berbelas-belas tahun tanpa kehadiran ibu dan ayah yang cukup cuek membuatku banyak belajar dari semuanya. How to comment, how to message, dan termasuk how to add/remove a friend.
Memang dibutuhkan deretan kemarahan, kesedihan, luka, beribu pertanyaan dan sejumlah penyesalan untuk mendapatkan pelajaran tersebut. Namun aku belajar juga untuk berjalan maju. Belajar melepaskan, dan belajar pasrah. Juga belajar tunduk pada yang lebih tinggi. TUHAN. Deretan email, dan belasan permintaan maaf pun mengiringi pemahaman itu. Walau sempat membuat hati gundah gulana, mungkin merepotkan dan mengganggu beberapa orang, tapi aku kini mengerti. Dan aku pun bersedia bertanggung jawab. Aku juga mengerti sebuah arti persahabatan yang sesungguhnya, dan membedakannya dari yang hanya terlihatnya saja sungguh. Belajar arti untuk tidak menilai bahkan saat kau dinilai habis-habisan. Ah..luar biasa rasanya menjadi kalah dan terpuruk, karna dengan begitu aku mengerti arti dari sebuah kebangkitan. Bahkan disaat aku pada tahap kegilaan sekalipun, aku bisa memahami arti kesadaran. Dan saat aku tak memiliki sapapun tuk mendukungku, aku akhirnya bisa berdiri kembali, sendiri.
Terima kasih Tuhan untuk semuanya. Terima kasih juga kawan untuk semuanya. Aku kini sudah sedikit lebih dewasa...walau dengan memar di jidat. *JEDOUGH* (copyright by Kampung ID-GMAIL)
bagai cakrawala membuka matanya huruf huruf itu mengalir sederas air terjun di pinggiran tebing
bagai menemukan harta karun bersorak dan berteriak berlompatan dan berdansa
surga baru itu kataku tapi bukan lembaran baru hanya sebuah mata baru
menderingkan bunyi yang akrab di hatiku panggilan kembali menuju dunia yang selalu kucintai mengingatkanku kembali pada hamparan sore yang selalu kurindukan
Name: daesy christina Home: Indonesia About Me: Lagi demen baca "blog tamtam",,,,,,,,,
yg paling aku suka itu: sendal jepit, semua yg berwarna biru, segala macam buku bacaan(cita-cita pengen punya perpustakaan segede istana), tergila2 sama puisi & menulis, matahari terbit, matahari terbenam, lagu Little Wonders - Rob Thomas, doyan nonton Schinder List berulang2 kali. Aku itu slalu disakitin cinta tapi gak pernah kapok jatuh cinta, gak pernah bisa tidur sendirian (pasti harus nyalain tv/radio), demen anak kecil n ngajar mreka, dan kesimpulannya adalah i'm just an ordinary girl with bizzare attitude..x) See my complete profile