Kala kau sendiri, takut dan sedih, Ingatlah kawan... Tanpa debu, tak akan ada dunia. Tanpa malam, pagi tak akan berarti. Tanpa air mata, senyuman akan sangat membosankan. Dan tanpa hitam, putih pun tidak akan terasa indah.
Jika kau ingin menangis, menangislah untuk sehari saja... Karna esok, adalah hari lain untuk kau tersenyum. Jika kau ingin marah, berteriak sajalah... Jangan kau simpan dendam yang merusak hati. Jika kau merasa letih akan bebanmu, beristirahatlah sejenak... Jangan kau tinggalkan beban yang kan membusuk Dan mematikan kebahagiaan yang kan datang esok Jika kau merasa sendirian, nikmatilah malam dengan segala syukur... Karna dengan itu kau akan sadari, bahwa selalu ada harapan tuk hari esok...
#Nikmatilah hidupmu, seperti nada yang mengalir dalam tiap hentakan irama, dan jalanilah hidupmu dengan segala keindahannya...dan kau akan tahu betapa berharganya hidupmu ini...# created by me
Dimana rembulan tersenyum dan bintang berpijar semu, aku duduk memandang ufuk. Terlihat kelam yang abadi, dan sepi yang menangis. Buka kembali lembar hidupku, telusuri gambar-gambar sisi hati. Ingat tiap waktu yang lewat, mimpikan tiap hari yang ada. Kala ku sepi, kau temani aku. Kala tangis hadir, kau seka dengan tawa. Dan kala ku pergi, kau menangis. Segala cinta dan sayanku tercurah padamu.
Namun kadang, ku ragu padamu, dan ku pun menjauh. Tapi kau selalu yakinkan aku, bahwa kau kan hadir dalam tiap langkahku. Mungkin kau tak pernah ucapkan sayang, mungkin hanya bayangmu, dan namamu yang ada dalam jiwa. Tapi kau curahkan segala hidupmu bagiku. Mungkin kau tak pernah belaian sayang, mungkin kau tak ucapkan rindu. Namun cintamu begitu menyentuh hatiku. Mungkin nanti kau tak sosokkan padaku. Tapi jiwamu menyatu denganku.
Tiap detik, menit dan hari. Tiap malam dan mimpi. Tiap siang dan hidup. Kau bisikkan rindu, sayang dan cintamu selalu.
Begitu banyak cinta yang kurasakan, hanya cintamu yang begitu sempurna. Bisikkan angin rindu ke hati yang sepi, usapkan belaian sayang ke jiwa yang hampa. Alunan nada cintamu buat irama indah dalam hidupku. Segala terima kasih tak mampu gantikan cintamu.
Kini...kala ku galau dan resah. Kala tangis basahi mata jiwaku, kala sepi menghantamku. Kala kusebut namamu, dan kubayangkan sosokmu, kau hadir. Hilangkah segala galau dan resah, seka segala tangis dan musnahkan segala sepi.
Kini...kusadari aku tak pernah sendiri, karna kau selalu ada. Aku tak akan tenggelam dalam sedih, karna kau kan ubah jadi tawa.
Terima kasih...hanya itu yang bisa kuucap. Kau kan selalu di hatiku, hanya itu yang bisa kulakukan. Ku berjanji, aku takkan jauh darimu, aku takkan membuatmu sedih lagi dan kan selalu menjadi terang.
Ku kan tersenyum untukmu selalu. Kan kubagi jiwaku denganmu. Kan kucurah segala cinta untukmu. Itu janjiku.
Dan...hadirlah selalu untukku, seperti yang sudah kau lakukan hingga kini. Tuntunlah aku dalam jalanmu, tunjukkanlah padaku rumahmu, tujuanku. Sekalah tangisku dengan tawa damaimu, dan jadikanlah aku wadahmu. Dalam berkarya bagi umatmu.
Kan kubagi senyumku, seperti kubagi senyummu untukku. Kan kusebar segala kasih seperti kau sebar kasihmu.
Kaulah pijaranku, peganganku, tumpuanku dalam jalan hidupku. Kaulah ayah, ibu, adik, kakak, kekasih, kawan dan sahabat terbaikku.
Dulu kala kau hadir, ku terpikat padamu. Hampaku telah jadi tawa, dan resahku jadi senyum. Sejuta rasa dan warna penuhi relung hatiku. Seribu bulan dan bintang hiasi malamku. Saat kau dekat, bukan debaran yang ada, hanya damai...damai...sedamai kelam malam.
Walau kau bukan seorang penyair, namun kau telah ucapkan puisi sayang lewat gerakmu. Yang kurasa pun berbeda. Getaran yang indah, namun bukan cinta.
Tapi mungkin aku salah, kini kau telah hilang. Kau telah jadi rindu yang lain dan mimpi untuk yang lain jiwa. Kau telah jadi miliknya. Milik kasih yang kau cinta.
Segala rasa dan harapku musnah, gores hatiku dengan pisau kecewa, dan hantam dengan kayu tangis. Semua berubah. Semua hilang.
Walau kau telah ucap sayang, kau tak cukup sayang tuk selalu bagi hatimu untukku. Walau kau ucap maaf, s'gala maaf tak cukup tuk obati luka hatiku. Karna luka itu sudah terlalu dalam dan membekas.
Kini yang kuharap hanyalah semoga rasa ini kan hilang dan lupakan segala rindu untukmu. Janganlah kau ucap maaf karna sia-sia.
Harapku hanyalah...s'moga ku dapat pindah ke hati yang lain...yang lebih menyayangiku...
Kala kau datang dalam hidupku, warnaku kembali cerah. Kembalikan segala tawa dan rindu. Duniaku pun serasa hangat sewaktu kau bersamaku. Harap demi harap, mimpi demi mimpi kurangkai indah. Kata demi kata ungkapkan sayang. Indah seindah bunga yang mekar dan cerah secerah langit biru.
Namun, kala kau beranjak pergi, aku seakan terjatuh dalam kesepian. Kala kau tertambat di lain labuh, dan terpikat di lain jiwa. Tak ada air mata...hanya kepedihan. Takut mendatangiku...malamlah temanku. Selalu kucari sosokmu...harap kan kutemukan tawa yang dulu menghiasi hatiku.
Tapi entah mungkin nasib, tawa itu bukan lagi untukku. Kata itu bukan lagi menghiburku.
Hari demi hari kucoba rangkai kembali kepingan hatiku, kurangkai lagi tawa dan senyum. Kulangkahkan kakiku yang sempat terjatuh...ku coba raih segala harap yang ada di mataku. Harap pedih ini jadi senyum dan luka ini sembuh.
Kan kucari lagi hati lain, itu tekadku. Tapi bayangmu selalu di benakku. Tak bisa dihapus lagi... Kenangan itu terlalu indah... Sosokmu terlalu kusayang...
Kini, harapku kau bahagia hingga ku bisa lepas bayangmu. Namun sayangku tak akan kuhapus. Biarlah rasa ini tumbuh, hingga ia mati karena layu, hingga ia tumbuh kembali. Jadi yang lebih indah, dan tak rapuh lagi.
Hanya itu harap dan inginku. Hanya waktu yang bisa mewujudkannya...di lintasan hidupku yang entah kemana
12-09-99 Teruntuk seseorang yang pernah hilang dariku
Tiap kutatap wajahmu, ada rasa jalari hatiku. Tiap kudengar suaramu, ada getar di jiwaku.
Membuat hari-hariku berwarna, membuat rindu kian menyerang. Ku terpana kala kau ucap hati, terpaku kala kau sentuh hati. Cipta kenangan jiwa, buka mata hatiku. Rasa ini tak akan pernah musnah, tapi akan terbias layu bila gelap.
Kadang aku ragu apakah senyum itu untukku, apa ucap itu demiku, apa hatimu bagiku? Kau selalu jauh dariku, selalu ada rintangan di jalanku. Ku tak tahu isi hatimu.
Apa kau merindu aku saat malam, apa kau memimpi aku kala lelap. Apa kau milikku? Ku tak tahu.
Hatimu indah terukir, jiwamu seakan bening murni selalu memikat hati ini. Seakan tiadak satupun yang membuatku melukaimu.
Kau seperti burung kecilku yang ingin selalu kujaga, seperti bunga hatiku yang akan selalu kusiram. Seperti langitmu bagi bintangku. Namun, apa senandung lagumu untukku...apa angin cintamu hembus jiwaku...apa bisikkan kisahmu bercerita hanya padaku?
Ah..andai kau tahu betapa aku merindumu kala malam, betapa ingin aku kau berada disisiku. Andai kau tahu, kan kuberi segala cintaku untukmu, kan kumimpi kau tiap lelap.
Ingin aku merengkuhmu, menjagamu, menuntunmu kala kau rapuh. Ingin aku temani tawa, senandungkan lagu cinta kala kau mekar. Ingin aku bersamamu selalu dalam tiap lembar buku hidupmu dan dalam tiap irama hatimu...
Andai kau tahu segala rindu, harap, dan mimpiku. Andai...
Andai...aku tak pernah mengenalnya. Andai aku tetap menjadi gadis kecil yang belum tersentuh alunan nadanya.
Cinta...saat pertama kali mataku tersiram embunnya, terasa sejuk. Saat mendengar alunan nadanya, terasa matahari dan bintang menjadi satu. Indah seperti pelangi sehabis hujan.
Namun kala kau tertusuk durinya, lukanya terus membekas. Kala kau diikat keegoisannya, terasa kau tertidur di dalam lumpur. Begitu sesak dan menyakitkan. Segala macam pahit manisnya telah kurasakan. Seluruh keindahan dan kebobrokannya telah kulihat.
Harapku selalu...inginku juga bertumpu kedamaian. Ingin kurasakan damainya persahabatan, bersama sahabat-sahabat jiwaku. Ku ingin lepas segala beban yang ada, mencoba nikmati hidup, coba nikmati indahnya rembulan malam...sendiri dalam sepi. Ku ingin...ku harap ku hidup dalam sepi yang damai. Tanpa gangguan sentuhan cinta yang nakal.
Saat ku sendiri, aku bisa bermain dengan malam tanpa dingin, bersahabat dengan api tanpa terbakar, bercanda dengan duri tanpa tertusuk, atau berkawan dengan sungai tanpa terhanyut. Segala kehampaan sudah menyatu, segala tangis sudah kering, segala resah telah hialng.
Andai...aku tak merasakan cinta. Andai aku tetap menjadi seorang gadis kecil untuk keluargaku, seorang teman mungil bagi sahabatku, seorang adik kecil untuk kakak-kakaku, dan seorang murid bagi guruku.
Terima kasih...itulah yang selama ini ingin kuucap. Atas cinta yang kau b'ri, atas segala kasih sayang yang melimpah. Juga atas segala rindu yang kau nanti. Kau adalah matahari bagi kegelapanku, tetesan embun kala pagi hari, dan kesejukan bagi bara api jiwaku. Kaulah tangan yang siap menangkapku saat ku terjatuh, kaulah belaian kala ku merindu, kaulah teman kala ku sepi. Kau dampingi aku dalam tiap langkah. Hibur aku dalam tiap tangis, dan tolong aku dalam tiap resah. Kaulah bunga mimpiku, sosok doaku, dan bayang rinduku. Dengan tulus kau curah segala rasa. Rasa sayang yang suci. Kaulah boneka dalam pelukku, dan lengan dalam bimbangku. Kaulah segalanya.
Terima kasih...ucapku lagi...seakan tiada yang dapat balas rasa itu. S'gala harta, s'gala bunga atau permata tiada dapat gantikan posisimu dalam hatiku. Kaulah hadiah terindah yang kudapat, curahan berkat terbaik yang ada. Tiada kata yang dapat lukiskan betapa aku bersyukur bahwa kau ada.
Terima kasih...atas segalanya. Atas air mata saat aku sedih, atas tawa kala ku bahagia. Kau telah ubah hampa jadi isi, ubah tangis jadi tawa, ubah bimbang jadi tegar.
Sekali lagi..dan sekali lagi..dan sekali lagi kuucapkan terima kasih. Terima kasih atas segalanya. Terima kasih karna kaulah sahabat sejatiku. Terima kasih karna kaulah teman jiwaku.
Terima kasih...
Kini, kan kujaha selalu persahabatan kita. Agar selalu indah seindah hatimu, tegar setegar dirimu dan cantik secantik jiwamu.
Kau...kau adalah manusia. Yang lahir, tumbuh dewasa ditemani alunan musik hidup. Bersahabat dengan mentari, bulan, siang dan malam. Tersentuh oleh cinta yang pahit dan manis. Belajar tentang kehidupan. Kala kau bahagia, terasa dunia adalah temanmu. Namun kala kau sedih, dunia adalah musuhmu.
Kau berjalan di lorong panjang remang, ditemani oleh sebuah lilin. Lilin yang kadang redup, kadang bersinar terang. Lorong itu panjang dan basah. Air mata kesedihan dan kerinduan membasahinya. Di kiri kanan tampak jendela-jendela kecil dunia yang menghembuskan nafas kedamaian bercampur bau kejahatan. Entah akan kemana lorong tersebut. Remang tiada ujung. Kadang kau temui cabang yang membingungkanmu. Rasa takut menghantui dan kejenuhan membayangi. Kadang kau rasakan sentuhan-sentuhan lembut jiwa-jiwa lain, yang kerap menuntunmu, atau menolongmu saat kau terjatuh dalam genangan kesedihan atau saat kau tersandung batu cobaan. Nyanyian-nyanyian merdu senandungkan irama penghibur sepi, kala kau merindu. Bunga-bunga berwarna mekar saat kau jatuh cinta, dan layu saat cintamu menghilang.
Kenangan-kenangan masa lalu terlihat di setiap jejak langkah kaki dan jemarimu. Menemanimu dalam setiap langkahmu. Kadang kau bosan dan lelah saat menempuh lorong hidupmu. Tapi selalu ada suara-suara lembut yang memanggil-manggilmu. Seakan memintamu untuk bangkit dan terus berjalan.
Terus berpijak ada bumi dan berpegang pada langit. Terus menyanyikan lagu cinta, terus menemani malam sepi. Terus bermain dengan bintang, terus berjalan hingga akhir lorong. Menjadi bagian dari lorong-lorong hidup lainnya. Selalu...
Special Birthday Note for Abun Tetangga dari masa lampauku
Name: daesy christina Home: Indonesia About Me: Lagi demen baca "blog tamtam",,,,,,,,,
yg paling aku suka itu: sendal jepit, semua yg berwarna biru, segala macam buku bacaan(cita-cita pengen punya perpustakaan segede istana), tergila2 sama puisi & menulis, matahari terbit, matahari terbenam, lagu Little Wonders - Rob Thomas, doyan nonton Schinder List berulang2 kali. Aku itu slalu disakitin cinta tapi gak pernah kapok jatuh cinta, gak pernah bisa tidur sendirian (pasti harus nyalain tv/radio), demen anak kecil n ngajar mreka, dan kesimpulannya adalah i'm just an ordinary girl with bizzare attitude..x) See my complete profile