Tuesday, March 01, 2016

Dasar Ngeyel!

Beberapa hari eh minggu dink ini aku ngalamin pergulatan batin akan arti sebenarnya pelayanan. Wuiih..berat? Nggak ah.
Selain kg-an badanku yang semakin naik, ini sih aku rasa yaa wajar kok.
Semua orang pasti pernah ngalamin namanya pergulatan dalam sebuah pelayanan. Hehehe.

Jadi begini ceritanya.
Pada suatu hari..caah ilehh..
Aku diberitahu oleh seseorang (seorang teman di facebook, yang sekarang entah user idnya berubah jadi apa) kalau akan ada event dalam waktu dekat ini. Dia menawarkan untuk ikutan.
Di satu sisi, aku waktu itu cukup sadar diri akan kesibukan di pekerjaan dan keluarga yang cukup menyita pikiranku. Jadilah saat itu aku menolaknya dengan halus.
Tapi lalu aku pikir...ehh kok pelayanan ditolak sih? Dosa kagak yah? :D
Apalagi dalam kamusku tidak ada hal seperti kebetulan. Orang itu bisa ngajak aku pasti ada sebabnya.

Lalu aku berpikir lagi..hush! Yang kamu gelutin aja sekarang belum beres malah kepengen aktif yang lain.
Hutang kegiatan tuh diberesiin! Hehehe..*sungkem ke Romo*

Entah kenapa aku tergoda untuk bisa ikut melayani. Tho...mumpung masih muda. Mumpung masih bisa aktif. Kapan lagi? :)
Namun beberapa waktu lalu setelah kejadian itu, aku dapat info terbaru bahwa kalau aku ikutan aktif di situ, kemungkinan untuk terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan cukup besar. Ibaratnya, kalau aku nekat ikutan, entah apa yang akan terjadi, yang pasti feeling aku sih bakalan bisa bete dan nggak full pelayanannya.

Aku kuatkan diri. Aku kuatkan tekat. Aku tidak akan ikutan.Next time maybe. Next year maybe.
Tho masih banyak kegiatan lain yang bisa aku ikuti. Apalagi yang sedang menunggu planning dariku.

Emang dasar manusia!
Semakin ada halangan, semakin besar rasa penasarannya.
Aku penasaran..sangat penasaran apa yang akan bisa terjadi nanti.
Aku sangat ingin ikut. Ada sebuah dorongan besar kesana. Entah apakah itu egoku atau memang disuruh Tuhan.

Lalu siang itu aku memberitahukan orang yang bersangkutan bahwa aku ingin ikut membantu.
TUHHH KHAN! Ngelemparin diri sendiri khan! :(
Namun saat orang itu membalas dan bertanya, aku diam. Aku takut. Aku pengecut. Aku masih belum seberani kenekatanku itu.
Walau di kegaitan itu cukup banyak orang yang sudah aku kenal. Tapi dasar penakut!
Aku masih saja duduk terdiam disini dan menyesali ketakutanku. Menyesali kenekatanku.

Dan tiba-tiba. AKU NGEYEL..Keinginan untuk ikut muncul kembali. HUAAAA!
Kagak bakalan selesai-selesai nih.

Harus dibawa dalam doa kayaknya nih biar sedikit tenang. Biar ada..kepasrahan...
Atau mungkin kau punya solusi terbaik untukku?

Haruskah aku mundur dan memasrahkannya karena tempat tiap orang itu berbeda-beda melayaninya. You can't have it all.
Ataukah aku harus melawan kepengecutanku, memberanikan diri, dan mengikuti rasa ingin melayani ini?

Hiks...

Share

Monday, February 29, 2016

Lantang

​Jika saja kamu tahu hatiku
Mungkin aku tak perlu lagi diam
Jika saja kamu mendengar suaraku
Mungkin aku tak perlu lagi ​bisu

Teriakkan benciku
Teriakkan cintaku
Pada asamu
Pada relungmu

Aku ingin berkata
L.A.N.T.A.N.G

Aku ingin teriakkan
Hariku di dalam hatimu

290216 ~SoulVibe


This email has been sent from a virus-free computer protected by Avast.
www.avast.com

Wednesday, May 20, 2015

Saya dan Zona Nyaman

Siapa yang tidak punya zona nyaman dalam hidupnya? Yang pasti bukan saya.
Zona nyaman saya adalah social media, buku, kamar, televisi, dan tidur. Jika berada dekat salah satunya, saya sudah merasa tenang. Apalagi jika dalam waktu bersamaan dengan semuanya. Surga dunia banget deh.

Saya adalah seseorang yang berkepribadian Sanguinis Phlegmatis. Bahkan tahun ini saya resmi Sanguinis dominan. Berarti seharusnya saya adalah orang yang 'rame', talkative, center of attention, lively, 'kembang' di antara kumpulan manusia. Bahkan sepertinya saya memiliki kecenderungan ADD. 
Tapi, pribadi Phlegmatis saya ternyata tidak sirna. Saya menyenangi masa-masa sendirian. Menyepi, merenungi, terisolasi, diam, dan tertutup. Hal ini pula yang menyebabkan saya juga adalah orang yang pendiam, tertutup, dan penyendiri. Bahkan saya sering mengalami fase membenci ataupun muak menghadapi orang-orang dan keramaian.

Namun lucunya,  dalam beberapa tahun ini, saya 'terpaksa' berkecimpung dalam dunia yang terbuka dan harus tampil. Saya yang seumur hidup memiliki demam panggung akut malah sering harus presentasi di hadapan banyak orang.
Berkali-kali saya memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi. Diam di belakang panggung, itulah alasan kuno saya.

Tapi ternyata, sepertinya saya disuruh berkembang lebih dan keluar dari semua alasan saya.
Saya dipaksa keluar dari zona nyaman. Saya dipaksa melawan semua ketakutan saya. Saya dipaksa mendobrak semua tembok-tembok penghalang. Saya dipaksa keluar.

Stress? Banget! Takut? Luar biasaaa! Rasanya mau gila dan kabur? Emangg! Lelah? Berkali-kali!
Tapi kali ini taruhannya terlalu tinggi. Tidak ada jalan pelarian.

Saya harus keluar dari zona nyaman saya dan saya harus bisa buktikan bahwa bisa sukses!
Bahwa mimpi bukanlah hal mustahil dan semuanya mungkin..jika saya mau menantang itu semua.

Semangat!

Monday, December 01, 2014

Kadang

Kadang saya iri.

Mereka semua diperhatikan.
Mereka semua dipikirkan.

Yang di kepalanya.
Yang di dalam hatinya.

Hanya karena kata-katanya yang manis.
Hanya karena lirikannya.

Kadang aku iri